Rabu, 13 Juli 2016
Refreshing ala Doksip Tamada (5)
Sabtu, 16 Januari 2016
Pulau Beras Basah (1)
Minggu, 10 Januari 2016
Refreshing ala Doksip Tamada (3)
Minggu, 29 November 2015
Museum Kesehatan dan Kebudayaan
Mumpung masih November, masih di bulan pahlawan, saya selesaikan cerita petualangan tungggal saya di kota pahlawan ya. Kali ini saya mau cerita tentang Museum Kesehatan.
Tidak se-famous Tugu Pahlawan memang, tapi juga tidak kalah menariknya lho dengan HoS. Surabaya punya ini museum unik, museum kesehatan, pas sejalan dengan 'bidang' saya. Sayang cuma sebentar saya di sini, tidak lebih dari 30 menit. Museum ini buka hingga pukul 15.00 dan saya tiba di sana pukul 14.30, alhamdulillah, petugas museum mengizinkan saya masuk.
Horor. Ini kesan pertama yang tergambar dari museum ini.
Saya simpulkan ada 2 ruang utama, satu ruang panjang untuk koleksi alat-alat kesehatan masa lampau dan satu ruang panjang untuk koleksi benda-benda budaya.
Di ruang kesehatan, ada berbagai macam alat yang dulu pernah digunakan di rumah sakit-rumah sakit khususnya di Surabaya. Cukup lengkap, ada berbagai peralatan obstetri-ginekologi (termasuk cunam untuk kuretase pasien abortus, ini yang paling ingat karena dijelaskan berkali-kali oleh petugasnya), ada peralatan periksa mata, telinga, dan masih banyak lagi.
Rabu, 18 November 2015
Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember
Masih di Kota Pahlawan. Setelah dari HoS, saya melanjutkan rute tur sejarah ke Tugu Pahlawan. Ternyata satu lokasi dengan Museum Sepuluh Nopember dan tidak jauh dari HoS, dengan beca saya memerlukan waktu sekitar 10 menit dari HoS. Saat itu hujan lebat mengguyur Kota Pahlawan. Namun, ini tidak bisa menghentikan langkah saya untuk tetap mengunjungi tempat bersejarah ini.
Masuk saja saya ke area Tugu Pahlawan. Dengan sedikit basah karena hujan, saya mengendap-endap berjalan mencoba mendekat pintu masuk museum. Alhamdulillah, sampai juga.
Secuil ceritanya sudah saya ceritakan di posting '10 November'. Berikut beberapa poto miniatur dan benda yang menarik versi saya sih ya.
Kamis, 12 November 2015
House of Sampoerna
Tentang Kota Pahlawan, Surabaya, alhamdulillah, saya sempat mampir di sini walaupun hanya dua hari. Waktu itu, Maret 2015. Malam hari tiba dari Palembang, esoknya jalan, dan lusanya lanjut perjalanan lagi.
Awalnya mau jalan ditemani seorang kakak kelas, tapi di detik-detik waktu yang ditentukan, beliau menghilang tanpa kabar. Saya cuma bisa berdoa semoga beliau dalam keadaan baik selalu. Akhirnya saya jalan sendirian dan sebenarnya saya sangat buta tempat ini, maklum inilah pertama kalinya pengalaman saya menginjakkan kaki di kota Surabaya. Alhamdulillah ada google map yang setia menemani.
Kali ini tema kunjungan saya ke kota pahlawan adalah wisata sejarah. menurut kakak kelas saya itu, ada beberapa tempat yang beliau rekomendasikan, seperti Tugu Pahlawan, Museum Sepuluh Nopember, dan House of Sampoerna. Saya googling, ada satu tempat lagi yang sejalan dengan diri saya, yaitu Museum Kesehatan. Semuanya ada di tengah kota Surabaya, Kota Pahlawan.
Tujuan pertama saya adalah House of Sampoerna (HoS). Saya pilih ini yang pertama karena kabarnya ada pertunjukan yang hanya bisa dilihat di bawah jam 13. Pertunjukan apa? Jujur, sebelum masuk ke HoS, saya tidak tahu ini tempat apa. Hanya sedikit info, katanya di sana bagus, sudah, begitu saja.
Ternyata eh ternyata, ini seperti museum sejarah berdirinya perusahaan rokok Sampoerna. MasyaAllah. Pendirinya berdarah Tiongkok yang berawal dari berjualan 'biasa' di pasar Surabaya. Gigih berusaha hingga akhirnya sampai generasi ke-sekian seperti yang kita kenal sekarang. Jadi ingat iklannya di televisi, 'Sampoerna, teman yang asyik'.
Menuju lokasi ya. Ada beberapa bangunan di komplek HoS. Di depan, saya disamput beberapa security berwajah sangar bersuara lembut dan baik hati. Saya diarahkan ke gedung utama. Saya bingung, saya pikir ini tempat wisata yang notabene bakal ada biayanya, eh ternyata di sini tidak ada tiket masuk, alias gratis. Segera saya menuju tempat yang ditunjuknya. Hehehe.
Ketika pintu utama dibuka, serasa masuk rumah sendiri, seeeeng, aroma kental tembakau semerbak cepat memenuhi rongga hidung. Di sini saya disambut beberapa mbak cantik berparfum tembakau, eh, bukan, di ruangan ini ada dipamerkan perjalanan hidup pendiri Sampoerna dan beberapa contoh tembakau dan cengkeh. Wajar tembakau banget. Di ruangan lebih dalam ada beberapa alat pengolah tembakau masa lampau, koleksi tembakau dari berbagai belahan dunia, dan koleksi produk Sampoerna dari awal hingga yang terkini.
Selanjutnya saya naik ke tingkat dua, masih di bangunan utama. Di sini dijual beberapa produk HoS, yaaa bisa dijadikan oleh-oleh atau sekedar kenang-kenangan sudah pernah berkunjung kemari. Ruangan ini dibatasi kaca besar dengan stiker kamera coret. Ada apa?
Saya menengok ke arah kaca, waw, ini menakjubkan. Saya melihat ratusan ibu-ibu pelinting rokok sedang bekerja, hampir seribu jumlahnya. Inilah yang dikabarkan pertunjukan tadi. Gerakan mereka sangat cepat dan ritmik, seperti kumpulan robot hidup saja. Seorang pekerja diberi tugas menghasilkan minimal 50 linting rokok dalam waktu satu menit selama tujuh jam sehari. Bayangkan berapa juta linting rokok yang bisa dihasilkan dalam satu hari, diproduksi tiga shift setiap hari, dan habis laku di pasaran. Ini baru satu pabrik simulasi, bukan pabrik rokok Sampoerna yang utama. Lama saya termenung di sini memperhatikan mereka bekerja. Selama ini saya pikir cara terbaik gerakan stop rokok adalah menutup pabrik rokok itu sendiri. Lalu, bagaimana nasib ribuan pekerja di sini, makan apa nanti mereka. Ya sudah, saya pikir inilah siklus kehidupan.
Lanjut ya. Setelah puas melihat pertunjukan ini, saya menuju gedung lainnya. Ada galeri seni. Berbagai lukisan cantik dipamerkan. Beberapa sempat saya poto.
Tidak terasa saat itu sudah lewat Zuhur. Saya harus lanjutkan perjalanan. Lagi, saya bingung, kemana dan gimana. Saya tanya pak security, saya mau ke Tugu Pahlawan. Segera dipanggilkan beca. Saya diingatkan untuk hati-hati karena sendirian dan orang asing di sana. Baiklah pak, terima kasih. Saya lanjut ke Tugu Pahlawan.
Selasa, 10 November 2015
10 November
Ini tanggal bersejarah bagi negeri ini. Di tanggal ini 70 tahun yang lalu, dunia menjadi saksi bahwa bangsa ini tak mau dijajah. Hanya ada dua pilihan, merdeka atau mati. Semboyan ini dideklarasikan oleh seorang pahlawan nasional, Sutomo, atau yang lebih akrab dikenal dengan Bung Tomo.
Sejak dari bangku sekolahan, saya kenalnya Bung Tomo ini punya sejarah aksi heroik merobek bendera. Ternyata, aksi heroik Bung Tomo bukan hanya sekedar merobek bendera merah-putih-biru di atas Hotel Yamato menjadi bendera merah-putih. Bung Tomo ini orator hebat, entah berapa kali beliau orasi membakar semangat anak bangsa ini. Dari sekian pidatonya itu, ada sebuah pidato yang diabadikan di Museum Sepuluh November, Surabaya. Ini pidato yang paling melegenda.
Saya membaca teks ini setelah puluhan tahun kata-kata tersebut diucapkan. Waktu tidak bisa membatasi sebaran energi semangat Bung Tomo. Saat membaca ini, campur aduk rasanya, antara terharu, bangga, sedih, semangat, dan malu.
Terharu, karena kakek-nenek kita dulu sebegitu semangat mempertahankan dan merebut kemerdekaan ini. Bangga, karena kakek-nenek kita dulu berani sekali melawan penjajah dengan segala keterbatasan saat itu. Sedih, karena saya yakin ada ribuan kakek-nenek kita juga yang gugur di pertempuran, bahkan namanya pun ada yang tak diketahui. Semangat, jelas, ini seruan untuk semua pemuda Indonesia untuk selalu bangkit lebih baik dan terus berjuang meng-eksis-kan Indonesia. Malu, di usia sekian, setelah puluhan tahun berlalu, sudah berapa banyak yang telah-sedang-akan kita -baca: saya- lakukan untuk bangsa ini?
Di hari ini, mengingat kembali 10 November, saya ingin mengutip sebuah kalimat dari orasi Bung Tomo ini,
"Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyau darah merah yang dapat membikin secarik kertas kain putih merah dan putih maka selama itu kita tidak akan mau menyerah kepada siapa pun juga"
Inilah Indonesia, selamat hari pahlawan, selamat menjadi pahlawan baru bagi Indonesia!
Jumat, 18 September 2015
Selasa, 08 September 2015
Museum Angkut
Berada di tengah mobil-mobil antik ini serasa berada di suatu masa di tempat yang bukan di Indonesia. Mungkin cuma saya sih yang merasa demikian. Tapi ini nyata ada di Indonesia lho, tepatnya di Museum Angkut, Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Yang lagi jalan-jalan ke Malang, jangan bilang nggak sempat ke sini, bisa nyesel lho, hehe.
Kalau museum itu identik dengan benda prasejarah, sunyi, sepi, kuno, dan membosankan, Sahabat tidak akan menemukan itu semua di Museum Angkut ini. Dari pertama memasuki ruang museum saja pengunjung sudah disambut oleh miniatur Bumblebee, salah satu robot di film Transformer. Semakin dijelajahi, semakin suka, dan semakin tipis ruang memori karena bakal penuh dengan poto-poto karena memang banyak sudut yang unik untuk latar belakang poto.
Museum ini menampilkan sejarah perkembangan alat transportasi, mulai dari yang tradisional memanfaatkan hewan seperti gerobak dan andong hingga kendaraan termodern saat ini, dari berbagai penjuru bumi, dan dari masa ke masa. Koleksi museum ini sangat banyak dan kreatif penataannya. Seperti di Batu Secret Zoo, pengunjung akan melalui jalan yang akan membawanya mengelilingi semua tempat di museum ini. Jadi, semua koleksi akan sempat terlihat semua.
Ini beberapa koleksi Museum Angkut yang saya suka.
Mobil dari Anyaman bambu
Mobil panjang, Limousine?
Kabinkruiser 1957, mobil kodok?
Triumph, mobil tanpa atap, hehe
Sepeda roda empat, cikal bakal ide mobil?
Koleksi Motor, ada yang sama?
Mau pilih mobil yang mana hayo?
Uniknya, Museum Angkut juga menyediakan koleksi yang membuat kita seolah merasa berada di atas angkutan tersebut. Misalnya, kereta. Ketika melewati lorong ini, suara khas kereta jelas sekali terdengar dan lantai pun bergoyang seolah kita berjalan di atas gerbong kereta yang sedang melaju. Jendela pun dihias seolah kita melihat pemandangan berjalan dari jendela kereta. Nah, setelah keluar dari lorong kereta itu, ketahuan, ternyata lorong itu dibuat di atas jembatan, seperti jembatan gantung, wajar goyang-goyang. Kreatif.
Alhamdulillah, saya ke sana bersama kakak tersayang dan teman-temannya. Terima kasih banyak ya Mas Aji. Semoga ada kesempatan kita ramai-ramai sekeluarga main dan jalan bareng seperti ini.
Senin, 31 Agustus 2015
Wisata Edukasi: Batu Secret Zoo
Masih Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Masih di komplek Jatim Park 2, tepatnya di Batu Secret Zoo, kebun binatang modern, edukatif, nan mengesankan.
Apa saja sih yang bisa kita temui di sini?
Namanya juga kebun binatang, tentu yang pertama terkesan dalam benak adalah hewan-hewan. Begitulah memang inti dari Batu Secret Zoo ini. Namun, bukan sembarang hewan biasa yang bisa kita temui di sini. Hewan di sini mewakili semua kelasnya, mulai dari avertebrata hingga vertebrata tingkat tinggi ada di sini. Semuanya ditampilkan dalam ruang hewan -read: kandang- yang dibuat sedemikian rupa menyerupai habitat aslinya. Contohnya adalah flamingo cantik ini.
Penataan ruang hewan di kebun binatang ini juga unik. Pengunjung dibuat berjalan berbelok-belok hingga semua bagian kebun binatang dilewati. Penampilan pertama hewan yang bisa kita lihat juga sudah mengesankan, yaitu tikus air raksasa. Asli, saya baru pertama kali tahu apalagi melihat tikus segede itu, lebih besar dari seekor kelinci dewasa. Selanjutnya kita bisa melihat berbagai jenis primata (kera), di sini saya mlihat primata terkecil di dunia. Kemudian mamalia lainnya, seperti rusa yang kebetulan berpose cantik seperti ini.
Tidak akan terlewat satu pun hewan di sana jika kita mengikuti alur yang telah disiapkan oleh pengelolanya. Hewan-hewan pun dikelompokkan berdasarkan famili dalam taksonomi mereka, misalnya kawanan kucing besar dikelompokkan sesama kucing besar seperti macan tutul, harimau sumatera, leopard, macan kumbang, gitu. Tentu dengan pemisahan, perawatan, dan ruang hewan yang baik juga. Mereka pun dikoleksi tidak hanya satu hewan per ruang, ada beberapa, supaya mereka ada teman kali ya? Sesama makhluk hidup mungkin mereka sama seperti manusia, butuh teman, hehe. Contohnya kura-kura raksasa ini.
Batu Secret Zoo ini adalah kebun binatang terbaik yang pernah saya lihat selama ini di Indonesia. Memang belum semua kebun binatang sih yang pernah saya kunjungi, tapi saya yakin kebun binatang ini memiliki konsep pemeliharaan hewan koleksi yang elegan. Mereka benar-benar memperhatikan kebutuhan hewan koleksinya. Hewan nokturnal seperti tarsius yang aktif di malam hari mereka tampilkan dalam ruangan yang memang dibuat seolah menjadi suasana malam hari. Kelompok hewan air juga ditampilkan dengan hiasan lampu-lampu yang membuat mereka semakin memukau. Saya suka, manusiawi banget.
Walaupun kebun binatang ini sangat luas, pengunjung tidak perlu khawatir tersesat ataupun bingung arah. Pengelola juga menyediakan peta di berbagai sudut lokasi wisata. Pengunjung dapat dengan mudah mencari dan menemukan tempat yang diperlukan, seperti musola, toilet, dan food court. Sangat membantu.
Ngomong-ngomong tentang e-bike, boleh juga nih dicoba memanfaatkan jasa penyewaan e-bike. Dengan merogoh kocek Rp100.000,00 lagi, pengunjung bisa mengelilingi komplek wisata selama 3 jam dengan e-bike. Bisa dipastikan tingkat kecapaian -read: capeeek- akan jauh lebih rendah dengan menggunakan e-bike dibandingkan dengan berjalan kaki.
Ohya, di jam-jam tertentu, pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan beberapa hewan koleksi, seperti memberi makan gajah dan berbagai jenis burung. Atau mau yang lebih seru juga ada poto bareng singa. Sayang waktu itu sudah terlalu sore saya melewati bagian ini. Tapi, saya masih sempat mengambil pose sang raja rimba duduk santai. Imut ya, dari jauh.
Satu lagi yang saya sangat suka dari Batu Secret Zoo. Bukan hanya menampilkan bervariasi koleksi hewan, mereka juga memasang papan di berbagai sudut yang berisi informasi atau kuis tentang hewan. Jelas sangat menghibur pengunjung dan tentu saja menambah pengetahuan seputar hewan. Konsep yang cerdik sekali.
Sebenarnya masih sangat banyak sudut yang belum diceritakan di sini, tapi sudah cukup lah ya sedikit menggambarkan Batu Secret Zoo. Sengaja, biar para orang tua penasaran membawa anak-anak tercinta untuk liburan edukatif ke tempat-tempat gini (untukmu dan saya sendiri nanti setelah punya anak, hehe).
